MODEL PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
MODEL PEMBELAJARAN DEEP LEARNING
Penulis;
Dr. Yuni Mariani Manik, M.Pd.
Hayatun Sabariah, M.Pd
Dr. Syarifuddin, M.Pd
Susanti Faipri Selegi, M. Pd
Dr. Agus Rahmat Nugraha, M. Ag
Rudi Haryono, S,S,. M.Pd
Muhammad Munir, M.Pd
Dr. Lilia Pasca Riani, M.Sc.
Dr. Srie Muldrianto, M. Pd
Haya turraiyan M.Pd
Ni Luh Purnamasuari Prapnuwanti, S.Ag,.M.Pd
Nabila Nurhaliza Ali, S.Si., M.Pd.
Jumlah halaman; 281
Ukuran Buku: Unesco (15,5×23)
Versi cetak: Tersedia
Versi E-Book: Tersedia
Berat; 0 Kg
Harga; Rp; 167.000
Pembelajaran mendalam (deep learning) dalam konteks pendidikan merujuk pada pendekatan belajar yang menekankan pemahaman bermakna, keterhubungan antarkonsep, serta kemampuan menerapkan pengetahuan pada situasi nyata, bukan sekadar reproduksi informasi untuk kebutuhan ujian jangka pendek. Literatur kontemporer menekankan bahwa pembelajaran yang bermakna lahir ketika peserta didik aktif membangun pengetahuannya, mengolah ide, menguji bukti, dan merefleksikan proses belajarnya sehingga terjadi perubahan cara pandang, bukan hanya penambahan fakta (Biggs & Tang, 2015). Dalam pembelajaran mendalam, dimensi kognitif tingkat tinggi (HOTS) analisis, evaluasi, dan kreasi menjadi pusat perhatian. Revisi taksonomi Bloom menempatkan “menganalisis–mengevaluasi–mencipta” sebagai sasaran utama pembelajaran abad ke-21, karena ketiganya berhubungan erat dengan kemampuan memecahkan masalah kompleks dan berinovasi. Dengan demikian, definisi operasional deep learning bukan hanya “memahami”, melainkan “memahami hingga mampu mempergunakan dan mengubah” (Anderson & Krathwohl, 2014).
Aspek konstruktivisme memperkaya definisi ini: pengetahuan dibangun melalui interaksi aktif peserta didik dengan ide, pengalaman, dan konteks autentik. Kajian konstruktivis kontemporer menunjukkan bahwa ketika siswa diminta menjelaskan kembali konsep dengan kata sendiri, memodelkan, berdialog, dan mengerjakan tugas terbuka (open-ended tasks), representasi mental mereka menjadi semakin terstruktur, sehingga pemahaman yang terbentuk lebih tahan lama (Fosnot & Perry, 2013). Dimensi metakognisi turut mendefinisikan deep learning. Siswa tidak hanya mempelajari “apa” dan “bagaimana”, tetapi juga memantau “sejauh mana saya paham” dan “strategi apa yang perlu saya ubah”. Tinjauan riset satu dekade terakhir menunjukkan bahwa kemampuan merencanakan, memantau, dan mengevaluasi belajar berkorelasi positif dengan capaian deep learning lintas mata pelajaran, terutama sains dan matematika (Zohar & Barzilai, 2013).





Reviews
There are no reviews yet.