PUSAT STUDI STRATEGIS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN MALUKU Grand Design Penguatan Mutu, Karakter, dan Daya Saing Kepulauan
PUSAT STUDI STRATEGIS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN MALUKU
Grand Design Penguatan Mutu, Karakter, dan Daya Saing Kepulauan
Penulis:
Dr. Sarlota Singerin, S.Pd., M. Pd
Jumlah halaman: xii + 276
Ukuran Buku: A5 (14,8×21)
Versi Cetak: Tersedia
Versi E-Book: Tersedia
Berat; 0 Kg
Harga; Rp; 156.000
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau memiliki keragaman budaya, bahasa, adat istiadat, serta sistem nilai yang sangat kompleks. Keragaman ini merupakan kekayaan peradaban sekaligus tantangan dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Dalam konteks kepulauan seperti Maluku, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai instrumen formal persekolahan, tetapi sebagai pilar utama yang menopang keberlanjutan peradaban lokal dan nasional.
Istilah pilar peradaban merujuk pada fondasi utama yang menyangga eksistensi dan perkembangan suatu masyarakat. Pendidikan diposisikan sebagai kekuatan sentral yang menentukan arah kemajuan sosial, ekonomi, dan budaya. Sebagaimana ditegaskan oleh Basri et al. (2025), pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter manusia, mentransmisikan nilai budaya, serta membangun kesadaran kolektif yang menjadi dasar interaksi sosial yang beradab. Tanpa pendidikan yang kuat, peradaban akan kehilangan orientasi nilai dan arah pembangunan.
Secara filosofis, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, tetapi proses humanisasi. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak agar menjadi manusia yang paripurna. Pandangan ini sejalan dengan gagasan bahwa pendidikan membentuk manusia sebagai subjek berbudaya dan bermoral, bukan hanya individu yang kompeten secara akademik. Dalam perspektif sosiologis, Durkheim (1956) menyatakan bahwa pendidikan merupakan instrumen masyarakat untuk mempertahankan keberlanjutannya melalui internalisasi nilai-nilai kolektif. Pendidikan membentuk homo socius, yaitu manusia yang mampu hidup harmonis dalam struktur sosial





Reviews
There are no reviews yet.