FILOLOGI HADIS DI NUSANTARA
penulis;
Nurul Zuhriyah, M.Pd.I
Maisarotil Husna, M. Ag
Samsul Arifin, M. Pd.I
Dr.H.Akhsanul Fuadi, S.Ag., M. Pd.I
Prof. Dr. Ahmad Isnaeni, M.A
Editor; Syofrianisda, S. Th.I,.MA
Jumlah halaman: 160
Ukuran Buku: A5 (14,8×21)
Versi Cetak: Tersedia
Versi E-Book: Tersedia
Berat; 0 Kg
Harga; Rp; 89,000
Di Indonesia sendiri, filologi berkembang pesat sejak abad ke-19, terutama dengan ditemukannya ribuan naskah kuno berbahasa Arab, Melayu, Jawa, Sunda, Bugis, dan lain-lain. Para filolog seperti Poerbatjaraka, Baried, Chamamah,[1] Soeratno, dan Oman Fathurahman telah berkontribusi besar dalam kajian filologi Nusantara. Kajian filologi tidak hanya terbatas pada pelestarian teks, tetapi juga menjadi pintu masuk memahami kearifan lokal dan nilai-nilai Islam Nusantara, yang banyak terekam dalam karya sastra klasik. Sejarah Kebudayaan Indonesia selama berabad-abad telah mencatat dan mewariskan khazanah tertulis berupa manuskrip-manuskrip Nusantara yang jumlahnya sangat berlimpah dan tidak terhitung.
Adapun kandungan isi naskah maupun manuskrip Nusantara sendiri memang sangat luas dan tidak terbatas pada kesusastraan saja, tetapi mencakup berbagai bidang lain seperti agama, sejarah, hukum, politik kesultanan, resolusi konflik, adat istiadat, obat-obatan, teknik, dan lain-lain, sehingga hal ini akan sangat relevan sebagai bahan-bahan pengetahuan umum dalam dunia pendidikan di Indonesia. Bukan menjadi rahasia lagi Indonesia adalah negara yang memiliki kelimpahan aneka seni dan ragam budaya dalam berbagai bentuk. Salah satu produk budaya yang menjadi warisan benda cagar budaya adalah naskah kuno (manuscript).
[1] Baried, B. S., dkk., Pengantar Teori Filologi (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985).





Reviews
There are no reviews yet.